Selasa, 19 Agustus 2008

Al-Ilmu Nuurun


ilmu itu cahaya (al-ilmu nuurun) bukan al-ilmu niiron....
dasar mahasiswa aneh,,,,gak aneh sech emang kebanyakan kayak gitu.
tapi eits,,,,,gak kreatif kali nyontek pas UAS.
tapi teman-teman disampingku ini tidak sedang mencontek mereka hanya sedang bekerja sama, ketika waktu memungkinkan......
hehehehehe.sama aja kali.
tapi iz jamin ini hanya terjadi disemester 1,,,,,semester berikutnya gak bakalan terjadi....
anggap aza fotografer sedang mengalami salah objek ketika memotret pemandangan ini.
sorrrry fren....maaf....afwan....hapunten pizan. tadinya cuma buat koleksi pribadi,,,,tapi biar tulisannya penuh dan jadi kreativitas,,,,kalian jadi korban.
semoga generasi berikutnya tak terjebak dalam lubang yang sama,,,,
emh maksudnya gak terjebak sama kejailan fotografer yang sama.........

Senin, 18 Agustus 2008

Tak tampil bukan berarti tak berperan


Dewasa ini aktivis perempuan tak lagi asing dilihat dan dibicarakan, bahkan jumlahnya kini hampir menyamai jumlah aktivis pria. Dengan bermacam realitas yang dihadapi, alasan perempuan menjadi aktivis pun menjadi beragam, ada yang memang memiliki kualitas dan kuantitas yang memadai, sekedar mengisi waktu luang supaya terlihat sibuk, memiliki bakat ilmiah yang muncul begitu saja sehingga mendorongnya untuk mempunyai kepedulian, keturunan karena orang tua yang seorang aktivis atau hanya sekedar ajang perkenalan diri terhadap lingkungan aktivis. Aktivis disini pun menjadi multi makna, ada aktivis organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, ataupun aktivis partai.

Meski kini perempuan sudah diakui eksistensinya oleh pemerintah bahkan sudah mendapat jatah kursi untuk bisa duduk dipemerintahan sebanyak 30%, (kompas,29/02/08) namun hal demikian tidak cukup membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang kini tengah dihadapi perempuan. Seperti penyimpangan paradigma tentang emansipasi, kebebasan berpendapat dan persamaan hak dengan kaum pria. Justru dengan dimunculkannya isu gender dikalangan perempuan Indonesia pada umumnya malah menambah masalah dalam daftar catatan tentang perempuan.

Kesempatan dalam dunia politik yang diberikan kepada perempuan terkadang hanya sebatas janji yang sebenarnya cukup sulit untuk direalisasikan. Bagaimana tidak? Jika memang pemerintah berniat untuk memperbaiki kondisi perempuan yang sekarang ini bukan kesempatan dalam politik begitu saja diberikan kepada perempuan namun terlebih dahulu pemerintah harus merubah paradigma masyarakat tentang perempuan dan kembali mengubah budaya yang membentuknya.

Ternyata tidak mudah bagi partai politik untuk memenuhi kuota 30 % perempuan sebagai calon anggota legislatif ( caleg). Tidak hanya partai-partai baru yang minim kader perempuan namun juga partai politik besar yang sudah lolos electoral threshold pun mengalami kesulitan mencari perempuan yang memiliki kemauan dan kemampuan menjadi caleg.

Beberapa partai politik mungkin memiliki cukup banyak kader perempuan yang mempunyai kemauan, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang bisa diandalkan dan layak dijual kepada para pemilih. Namun sebaliknya, ditengah masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menjadi wakil rakyat, tetapi dengan berbagai alasan mereka menolak untuk dicalonkan. Seperti yang diungkapkan oleh Bambang Purwoko dalam bukunya ”Demokrasi mencari bentuk” bahwa ” Politik itu ibarat gadis cantik, mandi dipantai hanya memakai bikini. Apa yang terlihat mungkin terlihat indah dan menggairahkan tetapi lebih indah dan menggairahkan adalah..(maaf) apa yang tersembunyi dibalik bikini. Begitulah kira-kira analogi tentang dunia politik. Sehingga membuat para aktivis perempuan yang sebenarnya bisa bersaing didunia politik justru tak mau terlibat dengan dunia politik.

Seringkali perempuan dalam sebuah organisasi hanya dianggap sebagai kader biologis ketimbang kader ideologis atau kader seksual ketimbang kader intelektual, inilah permasalahannya...belum semuanya paham tentang hak yang sama-sama diberikan pemerintah terhadap perempuan karena kondisi masyarakat kita yang terlanjur terjebak dalam konsep budaya bahwa perempuan itu kurang pantas bila mendahului eksistensi pria yang merupakan pemimpin rumah tangga.

Dibeberapa kesempatan penulis pernah menanyakan,” Menurut sahabat, apa sebenarnya fungsi seorang perempuan dalam sebuah organisasi? jawaban yang muncul beragam ada yang menyatakan bahwa ini sudah jamannya perempuan diberi kesempatan yang sama dengan kaum pria, karena toh ternyata perempuan juga berpotensi untuk menjadi seorang aktivis (meski penulis yakin bahwa jawaban itu hanya minoritas diungkapkan). Kemudian ada yang menjawab bahwa perempuan hanya keranjingan wabah gender dan emansipasi yang dihembuskan para imperialis dan kaum feminis sehingga merasa menjadi perlu untuk terlibat walaupun hanya sekedar menitipkan nama dalam kepengurusan istilahnya ” ikut eksis tapi no akses ” ( menurut penulis sepertinya jawaban ini bernada meragukan kemampuan perempuan). Dan kemudian jawaban yang paling mayoritas pun muncul, ” perempuan itu perlu dalam sebuah organisasi, apalagi yang notabene didominasi kaum pria karena perempuan bisa menjadi semacam penyemangat para angggota pria dalam menjalani rutinitasnya sebagai aktivis.” kontan setujulah semua sahabat yang penulis tanya untuk jawaban terakhir ini.

Seperti itulah kebanyakan pandangan terhadap aktivis perempuan dalam sebuah organisasi sampai saat ini, tidak bergeser sedikitpun. Bahkan kaum perempuan sendiri terkadang biasa saja dan terlihat bangga walau hanya sekedar sebagai kader biologis ketimbang kader ideologis, atau hanya sekedar kader seksual ketimbang kader intelektual. Ya..sepertinya memang hampir benar kalau dikatakan kebanyakan aktivis perempuan hanya sekedar keranjingan wabah gender dan emansipasi daripada menyadari perannya sebagai seorang pemegang amanah dari para perempuan lain yang tentu saja tidak mempunyai kesempatan yang sama.

” Tak tampil bukan berarti tak berperan ” kata itu pernah diungkapkan Ingkus Aditama seorang penyiar Radio pada sebuah acara diskusi panel Mengenang Pahlawan Perempuan R.A Kartini disebuah Aula Perguruan Tinggi 4 tahun yang lalu. Seperti itulah kira-kira kedudukan perempuan sebelum virus gender mewabah. Seseorang yang selalu berperan tapi tak pernah tampil. Seperti para istri orang-orang besar yang mampu menjadi istri penyejuk suami dan menjadikannya orang terhormat, seorang ibu yang melahirkan dan medidik anak-anaknya hingga berhasil menjadi orang besar. Seorang ustadzah yang mengajarkan santriyah ilmu-ilmu para istri nabi dibalik tembok-tembok pesantren, dan banyak lagi contoh lain yang lebih real yang mungkin sekarang sudah ada dalam pikiran pembaca ketika membaca tulisan ini. Namun sayang ungkapan itu kini menjadi terbalik ” tampil tapi tak berperan apa-apa ”.

Bukan hal baru bila kini kita menyaksikan para perempuan berpidato lantang penuh semangat ketika musim kampanye penyeleksian caleg, ibu-ibu ramai berdemo hanya karena masalah poligami, banyak istri menggugat cerai hanya karena latah ingin ikut-ikutan tren seperti selebritis dan banyak hal lain lagi yang lebih menakjubkan yang dilakukan perempuan masa kini. Tak ada yang salah dengan semua itu, karena toh itu sudah jamannya dan memang sedang tren. Namun pertanyaannya ” itukah peran perempuan masa kini ”? Sedangkan dibalik tirai-tirai kekuasaan para perempuan terseok-seok dalam jeratan ruang prostistusi, kebutuhan hidup yang semakin menghimpit, terancam beragam penyakit kelamin ( kanker rahim, kanker payudara, kanker leher rahim, mulut rahim, kista dll ), mengalami kekerasan rumah tangga, ekploitasi tenaga dengan upah murah.... Ironis...

Saat diungkapkan oleh beberapa filsuf bahwa manusia sekarang cenderung mendahulukan eksistensi daripada esensi, menggambarkan kondisi perempuan masa kini. Ketika gender hanya sekedar diaplikasikan oleh kesibukan sebagai wanita karir daripada memahami hakikat dari gender itu sendiri.

Penulis menyadari bahwa isu tentang gender kini sudah biasa terdengar dan tak asing lagi dan bisa saja sudah bukan jamannya lagi membicarakan definisi tentang gender dan emansipasi wanita. Namun, penulis hanya ingin sekedar mengungkapkan beberapa kebingungan tentang perempuan masa kini yang kebanyakan tampil daripada berperan. Lantas akan kemanakah kita para perempuan mungkinkah kita kembali pada pepatah lama yang menyatakan ”tak tampil bukan berarti tak berperan” atau pada realitas saat ini ”tampil tapi tak berperan apa-apa” atau kita buat pepatah baru ”tampil dan juga memberi banyak peran ? ? ? ? ?”.

Hati nurani kita sebagai perempuan yang akan menjawabnya, tentunya dengan usaha kita saat ini, tujuan kita kedepan, penampilan seperti apa yang akan kita sajikan dan peran seperti apa yang akan berikan untuk perempuan lainnya.!!!!

perawan, penawar, pewarna


“Perawan…Pewarna…Penawar!!!!!

Perawan adalah pewarna bagi etalase dunia

Yang untuknya para hidung belang sanggup bertaruh rupiah

Perawan adalah pewarna Bagi hegemoni kekuasaan

Yang untuknya para raja keluar dari peraduan dengan menyengkelit pusaka

Perawan adalah pewarna bagi arogansi sistemik

Yang untuknya para bajingan siap menyebar kebusukan

Untuk perawanlah kubik darah ditumpahkan

Namun dari puncak kidung kearifan

Melangkah seorang perawan yang berhiaskan nurani

Dan harga diri kehadapanku

Dia persembahkan selarik senyuman nan tulus tanpa kata-kata

Dadaku bergetar…tungkai-tungkai lemahku menggeletar

Pahit dan rasa sakit itu mendadak lenyap

Senyumnya itu telah mendatangkan kesembuhan

Perawan yang menghampiri pertapaanku ini

Bukan sembarang perawan

Perawan ini membawa penawar luka didalam kehadirannya

Sesaat kabut tipis datang

Menjadi pembatas antara aku dan dia

Pandanganku menjadi samar

Perawan itu berpendar dan mengkristal

Darinya memancar delapan ribu pelangi yang bersayap

Pelangi-pelangi itu berputar…berthawaf

Disekeliling kosmis Kristal…dan memutih

Putih dan lambat laun memudar seiring memudarnya rasa sakit dan pahit

Perawan itu adalah penawar luka

Tak ada yang tahu siapa dia kecuali keyakinanku

Perawan dan pewarna adalah penawar derita

Perawan dan penawar adalah pewarna iman

Penawar dan pewarna adalah perawan dalam semesta kehidupan

" iip wijayanto"

hanya perempuan biasa yang lemah akan nafsu dunia, lemah akan kerakusan materi, dan lemah akan keakuan.

lalu siapa perempuan itu?

dunia akan serempak menjawab....

perempuan itu berada ditempat terjaga, terbungkus kelemahan untuk melakukan penindasan, lemah akan ambisi kekuasaan, dia berada didasar keikhlasan seorang ibu yang mampu mengubah pertumpahan darah menjadi lautan kasih sayang, peperangan menjadi kegotong royongan, dan perselisihan menjadi persaudaraan. dia berada didasar lautan nurani,,, jauh bersama mutiara iman,,,,iman seorang istri salihah, putri negeri yang tenggelam dalam lantunan doa bagi bangsanya,,,dan seorang filosuf yang memahami arti hidup lewat kepeduliannya.

semoga aku bisa bertemu dengan perempuan ini, belajar darinya, dan memperoleh kedudukan yang serupa dengan perawan bagi semesta kehidupan.

dia bukan racun dunia, bukan juga property kekuasaan,,,tapi dia ibunda bagi kelahiran sang juru selamat....dari

kekacauan



selalu melihat keatas


kita memang harus selalu menatap masa depan,,,,menantang setiap serangan yang datang pada kehidupan kita. bukan kita salah bila memandang masa depan dengan selalu melihat keatas...
bukan kelangit tapi pada orang-orang yang lebih dulu hidup dari pada kita.
mereka selalu bisa melalui semuanya, bahkan hidup dizaman yang tak semudah sekarang. semua serba kurang semua serba penuh akan keterbatasan
tapi apakah nyalinya mundur, ciut hanya karena kekurangan dan keterbatasan..?????
memang tak baik selalu melihat ketasa tetapi tak ada usaha apapun untuk meraih cita-cita kita. tahukah? bahwa kita 5 tahun kedepan ditentukan oleh buku apa yang kita baca sekarang dan dengan siapa kita bergaul.
selalu ingin seperti orang lain dengan menumbuhkan iri hati dan penyakit hati lain itu tidak dibenarkan, namun berusaha untuk menjadi diri kita supaya bisa sejajar dengan orang lain yang lebih baik, lebih sukses, lebih punya arti dengan menjadikannnya sebagai teladan itu bisa diterima?
namun kita mahasiswa.....saat ini terlalu melangit, jadi membumilah...
karena pada fasenya kita akan kembali kebumi...
menjadi penghuni bumi...dan langit hanya akan bisa kita pandang, tanpa selalu berada sejajar dengannya....
kita punya peran,,,,
peran yang jauh lebih indah adalah dengan menghayati, menjiwai setiap peran yang harus selalu kita mainkan dengan kisah-kisah yang berbeda....
"dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah
kisah maha brata atau tragedi dari yunani
setiap kita punya satu peranan yang harus kita mainkan
ada peran wajar dan ada peran berpura-pura
mengapa kita bersandiwara?????
liriknya teruskan saja sendiri pada kreatif kan,,,,,,,,
selamat menikmati sandiwara dunia dari sang sutradara handal

mucikari berkata................


"Tidak usah merasa berdosa. pekerjaan kalian itu sudah dilakukan orang sejak dulu. kenapa merasa menggadaikan diri? semua orang sekarang menggadaikan diri, semua orang melacurkan diri. ilmuwan melacurkan ilmunya. polisi melacurkan tugas. tentara melacurkan loyalitas. dosen melacurkan nilai, rektor melacurkan prinsip. ulama melacurkan ayat. LSM melacurkan HAM. hakim melacurkan keputusan. jaksa melacurkan tuntutan. pengacara melacurkan fakta dan pembelaan. birokrat melacurkan kebijakan.
kalian bahkan lebih suci dari mereka. yang mereka gadaikan bukan milik mereka. sementara yang kalian gadaikan adalah milik kalian sendiri."
aku memang bukan mucikari tapi perkataan diatas adalah dalih para mucikari untuk membuat para pekerja underground tidak terlalu merasa bersalah pada apa yang tengah diperbuatnya.
karena setiap orang punya apology. mucikari juga punya hak karena mereka juga manusia hanya pandangannya saja yang berbeda.
bicara salah dan benar...didunia ini tak ada salah dan benar karena yang ada hanya alasan. yang dapat membuktikan kebenaran hanyalah kematian,,,,
setiap orang mengaku punya Tuhan tapi sifat-sifatnya tak mencerminkan perilaku sebagai makhluk yang punya Tuhan dan berperadaban,,,,
aku juga tak berhak menjudge seperti hakim yang menghukumi terdakwanya....
aku juga tak berhak membenarkan seperti ulama yang mengembalikan semuanya pada ayat-ayat Ilahi
aku juga tak berhak menggurui seperti para Filsuf yang menajadi teladan dari setiap bidang ilmu
karena aku hanya seorang makhluk hina yang penuh cela,,,,yang tak banyak tahu dunia..
tapi satu hal yang aku tahu bahwa aku tak tahu apa-apa....

Sabtu, 16 Agustus 2008

kebersamaan yang terlarang


tak ada yang salah dengan ini...... penglihatan anda benar ko...ini bukan hasil rekayasa....ini juga dipublikasikan tidak untuk menjatuhkan salah satu pihak.... tapi apa yang terlihat disini merupakan wujud kebersamaan dua orang yang tidak dalam tanda kutip"""""""""""""""""""""""""""""""""""""stop hentikan pemikiran dangkal kita dalam memahami sesuatu, tak selamanya yang kita lihat adalah benar,,,dont judge book from in the cover...,maaf kalo bahasanya belepotan.....
coba tebak gambar disamping kira-kira anda punya spekulasi apa???

abie..........

sepertinya dia biasa.....
waktu justru yang membuatnya tidak biasa dimataku....
mungkin perempuan itu adalah wanita pembuat sejarah,,,
tapi pria ini adalah seseorang yang menghargai sejarah...semoga....
tahukah kita bahwa ternyata hal-hal yang biasa adalah justru yang paling berharga,,,,
aku tak tahu hidupku esok seperti apa, bagaimana, dan dengan siapa aku menjalaninya?
namun buatku sebentar mengenal nya..tak kan sebentar waktu untuk melupakannya...
hiehihiihiihihihi.....
jangan GR y....
tapi aku memang orang yang mudah menyayangi orang-orang yang masuk kedalam sejarah perjalanan hidupku...
mungkin suatu saat waktu akan merubah segalanya....
fisikku, pemikiranku, tingkah laku, sampai caraku memadang hidup.
tapi waktu tak akan mengubah ingatanku tentang sosok ini...karena dia yang pernah menjadi inspirasi...........
susah cari inspirasi?>?/???/
untuk abi
yang selalu akan umi ingat....
Powered By Blogger

playboy

playboy

buricak burinong

buricak burinong
kukupu lucu meureun....

Mengenai Saya

Foto saya
Saya... perempuan yang baik hati, supel, tapi kadang nyebelin... seorang mahasiswi hukum. yang mengalami kecelakaan sejarah karena salah masuk jurusan.... tapi... karena kecelakaan sejarah itu aku tahu banyak hal yang sebelumnya tak pernah terbersit difikiranku.. berminat jadi teman??? kirim email aza langsung

apa pendapatmu tentang hidup???

full house

full house
ji eun sama hyong jay butuh waktu buat memahami arti dari yang sudah terjadi. intinya.....ya..gitu lah!!!!!

NU pisan

NU pisan
tanyakan pada dunia kenapa harus ada Nahdlatul Ulama

Hadrotus Syaikh

Hadrotus Syaikh
Hasyim Asy'ari

IPPNU

IPPNU
saudara organisasiku

terserah

terserah
aku dilahirkan,,,aku dibesarkan..aku dididik..bukan untuk menghancurkan dunia dan menjadi racun dunia. tapi aku datang untuk memahami ke-AKU-anku. aku datang hanya untuk singgah, ikut menorehkan tinta peristiwa hidupku diatas kertas putih kehidupan.

it's me!!!!

it's me!!!!